July 24, 2019 Oleh Maisa Fitriani

Wayang Punokawan, Koleksi baru Museum Pendidikan Nasional

Ditulis Oleh : Maisa Fitriani,S.Par

Narasumber dan Editorial : Drs. H.R. Achmad Iriyadi (Kurator Museum Pendidikan Nasional)


Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia menambah beberapa konten koleksi. Salah satu koleksi yang baru di museum berada di lantai 1 gedung museum. Secara lebih spesifik benda tersebut terletak di area Pendidikan Berbasis Agama khususnya Pendidikan Agama Islam. Nama dari koleksi tersebut adalah Wayang Punokawan.

Wayang Punokawan berfungsi sebagai media dakwah untuk penyebaran agama Islam di Indonesia, Di gagas oleh Sunan Kalijaga pada sekitar abad ke 16 Masehi, Wayang Punokawan ini banyak digunakan di daerah Jawa Tengah lebih khususnya lagi di Surakarta (Solo). Penggunaan media seperti wayang yang telah dialkulturasi sebagai sarana dakwah dilakukan agar jauh lebih mudah diterima oleh masyarakat. Pada masa penyebaran agama Hindu wayang-wayang Punokawan ini bernama Tualen, Merdah,Sangut dan Delam. Sedangkan pada era penyebaran Islam berubah menjadi Semar, Nala Gareng(Gareng), Petruk dan Bagong. Seperti apa filosofi wayang Punokawan itu sendiri? Wayang Punokawan menggambarkan orang perdesaan yang lugu dan jujur namun teguh membela kebenaran, Selain itu juga sebagai simbol abdi dalam.

Masing-masing wayang memiliki karakteristik /filosofinya sendiri. Inilah karakteristik/filosofi dari masing-masing wayang tersebut :

a. Semar dengan nama lain simara dunya artinya adalah paku yang tegak (paku dunia) melambangkan bahwa orang Islam harus tegak dan teguh dalam menjalankan agama. Semar juga sebagai sebuah perlambang memberikan petunjuk yang benar dan selalu menggenggam kebenaran.

b. Nala Gareng berasal dari kata nala qarin yang berarti banyak kawan yang mengajarkan agar umat Islam harus banyak bersilaturahim. Tangannya yang menunjuk melambangkan selalu memberi petunjuk, Matanya yang terlihat juling mengajarkan agar jangan mengandalkan nafsu (harus bedasarkan akal sehat. Tangannya yang bengkok mengajarkan agar jangan mengambil hak orang lain. Kakinya yang terlihat bengkok melambangkan bahwa dalam menjalani hidup ini harus penuh dengan kehati-hatian dan jangan ceroboh.

c. Petruk berasal dari kata fatrukulu min siwalahi yang artinya janganlah mempersekutukan Allah yang berarti mengajarkan ketauhidan. Tubuhnya yang serba panjang melambangkan kecerdasan dan manusia yang ingin panjang umur. Selain itu juga melambangkan manusia yang tidak lepas daripada ilmu.

d. Bagong berasal dari kata bagho yang artinya perangilah. Mengajarkan kita agar selalu memerangi kejahatan dan kebathilan. ‘

Banyak nilai-nilai positif yang dapat diambil dari wayang punokawan tersebut. Penasaran seperti apa koleksi tersebut jika dilihat dari dekat? Kami tunggu kedatangannya di Museum Pendidikan Nasional UPI. Dengan senang hati kami akan berbagi informasi untuk anda.



Load image...