LONTAR WARIGA PARERISIAN

Lontar wariga parerisian merupakan teks uraian hari baik dan hari buruk dalam melaksanakan yajna (upacara bagi umat Hindu Bali). Di Bali, setiap lempir lontar sebagai media tulis yang masih digunakan hingga sekarang. Berdasarkan rupa-nya, lontar dapat dibagi menjadi 3 yakni;

  1. Lontar aksara (huruf)
  2. Lontar prasi (gambar), dan
  3. Lontar prasi-aksara (huruf dan gambar)

Salah satu jenis lontar yang dipamerkan di Museum Pendidikan Nasional adalah lontar wariga yang termasuk kedalam jenis lontar aksara. Lontar wariga pararesian ditulis dalam aksara Bali juga dikenal  sebagai aksara Hanacaraka, adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang berkembang di Pulau Bali. Aksara ini terutama digunakan untuk menulis bahasa Sansekerta dan Kawi, namun dalam perkembangannya juga digunakan untuk menulis beberapa bahasa daerah lainnya seperti bahasa Sasak dan Melayu dengan tambahan dan modifikasi.

Secara garis besar ilmu Wariga dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya

  1. dauh(waktu),
  2. penanggal (tanggal setelah bulan mati),
  3. panglong(tanggal menuju bulan mati),
  4. wewaran (perhitungan hari dari eka wara sampai dasa wara),
  5. pawukon (perhitungan wuku; terdiri atas 30 wuku),
  6. sasih(bulan; terdiri atas 12 bulan) dan
  7. warsa(tahun).

Dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, setiap bagian dari perhitungan ‘Lontar Wariga’ memiliki nilai hidup atau urip, bahkan dipercayai sebagai milik dewa-dewa tertentu sehingga suatu hari dibedakan dengan hari lainnya. Perhitungan yang rumit atas urip rahina, wuku dan sasih menghasilkan sebuah sistem yang disebut ala ayuning dewasa (baik-buruknya hari).

Jika diamati dengan teliti padewasan yang tertulis dalam kelender Bali maka kita akan melihat hari baik (dewasa ayu) yang lebih banyak berguna bagi masyarakat agraris, misalnya tentang menanam padi, menanam palawija, membuat alat penangkap ikan, berburu, mendirikan rumah, menggali sumur, dan sebagainya. Dalam bidang sosial mungkin dapat dilihat beberapa hari baik untuk membentuk organisasi, mengadakan rapat, memulai usaha, dan lain-lain.Artinya, wariga pada awalnya adalah cocok bagi masyarakat agraris yang memiliki cara hidup sederhana, sosial, religius, tenteram dan damai. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Bali pra-Hindu yang dimaksudkan adalah masyarakat agraris dan masyarakat Bali percaya bahwa lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk kehidupannya.

Dalam kurun waktu yang cukup lama ilmu wariga tetap hidup dalam masyarakat Bali.  Lontar merupakan salah satu warisan budaya dan intelektual yang harus dijaga dan dilestarikan, meskipun jika dilihat sepintas memerlukan perhitungan yang cukup rumit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

RSS
Follow by Email
WhatsApp
× Perlu Bantuan?