
Sumber: National Archives
Pada Agustus 1945 memasuki fase akhir Perang Dunia ke II yang sudah berlangsung selama
6 tahun sejak 1939. Jepang mengalami kemunduran di kawasan Pasifik setelah kehilangan
banyak wilayah strategis akibat serangan dari sekutu. Jepang semakin terdesak setelah
Amerika Serikat melakukan blokade laut sehingga pasokan bahan baku, perlengkapan
perang, dan bahan pangan semakin menipis. Meskipun kondisi Jepang semakin melemah
pemerintah Jepang belum menerima Deklarasi Postdam yang diumumkan oleh Amerika
Serikat, Inggris, dan Tiongkok pada 26 Juli 1945. Deklarasi tersebut menuntut Jepang
menyerah tanpa syarat atau menghadapi “kehancuran yang cepat dan total”
Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pertamanya menggunakan bom uranium Little Boy
di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Namun beberapa hari setelah pengeboman tersebut
pemerintah Jepang masih belum mengambil keputusan untuk menyerah. Di Situasi inilah
Amerika Serikat melanjutkan rencana pengeboman kedua yang telah dipersiapkan sejak
Proyek Manhattan.
Nagasaki Bukan Target Utama
Pada 9 Agustus 1945, tepatnya tiga hari setelah pengeboman kota Hiroshima, Amerika
Serikat kembali menjatuhkan bom atom kedua di Kota Nagasaki, sebuah pelabuhan terbesar
di Jepang Selatan yang menjadi kota penting semasa perang karena aktivitas industrinya
dalam memproduksi artileri, kapal, material perang, dan perlengkapan militer. Peristiwa ini
menjadi titik balik paling menentukan dalam sejarah Perang Dunia ke II. Serangan ini
semakin melumpuhkan kekuatan Jepang dan mempercepat berakhirnya perang dunia ke II.
Namun banyak orang mengira bahwa Nagasaki merupakan sasaran utama bom atom. Padahal
berdasarkan dokumen militer Amerika Serikat, target utama sekutu adalah Kota Kokura yaitu
kota yang menjadi pusat industri persenjataan Jepang. Namun target bergeser ke Kota
Nagasaki karena kondisi cuaca yang berkabut menjadikan kota sasaran utama sulit dilihat
dari udara.
Pengeboman Kota Nagasaki 9 Agustus 1945
Pagi hari tanggal 9 Agustus 1945 pesawat yang dipiloti oleh Mayor Charles W. Sweeney
bernama pesawat bomber jenis Boeing B-29 Superfortress Bockscar lepas landas dari pulau
Tinian dengan membawa bom atom plutonium Fat Man. Ketika tiba di atas target utama yaitu
Kokura, wilayah target tertutup oleh awan dan asap sehingga awak pesawat tidak bisa melihat
target sesuai dengan prosedur pengeboman visual. Setelah tiga kali melakukan lintasan dan
bahan bakar pesawat menipis, awak pesawat memutuskan mengalihkan penerbangan ke
target cadangan yaitu Nagasaki.
Tepat pukul 11.02 waktu setempat, bom atom berkode Fat Man dijatuhkan di Kota Nagasaki.
Bom berbahan plutonium tersebut meledak di udara dengan kekuatan sekitar 31 kiloton TNT.
Ledakan bom atom mampu menghancurkan bangunan dalam radius yang luas, memicu
kebakaran besar, dan menghasilkan gelombang kejut serta radiasi yang mematikan.
Meskipun kondisi geografis Kota Nagasaki dikelilingi perbukitan akan tetapi dampak dari
ledakan bom atom sangat besar. Kerusakan akibat bom atom Fat Man diperkirakan sekitar
40.000 orang tewas pada hari pengeboman, sementara jumlah korban lainnya terus meningkat
dalam beberapa bulan dan tahun akibat dari radiasi yang menyebabkan gangguan kesehatan.
Dampak dari Bom Atom Nagasaki
Selain menghancurkan kawasan pemukiman, bom atom berkode Fat Man juga merusak
fasilitas industri, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur kota. Berbagai penelitian
memperkirakan total korban jiwa mencapai 60.000-80.000 orang hingga akhir tahun 1945.
Peristiwa bom atom ini mempengaruhi Kota Nagasaki dalam jangka panjang, gen masyarakat
kota Nagasaki mengalami kerusakan yang menyebabkan berbagai penyakit kanker terutama
leukemia.
Dampak buruk akibat pengeboman pada 9 Agustus 1945 masih dirasakan sampai beberapa
tahun kemudian. Sekitar 200.000 orang menyusul tewas karena penyakit-penyakit akibat
radiasi, luka bakar stadium tinggi dan leukemia. Korban yang selamat dari bom atom
Nagasaki dilabeli sebagai Hibakusha yaitu korban yang mengalami nutritional anemia dan
penyakit lainnya yang sulit mendapat pengobatan.
Pengeboman Nagasaki menjadi penggunaan senjata nuklir kedua sekaligus terakhir dalam
sejarah peperangan. Bersama pengeboman Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan masuknya
Uni Soviet ke dalam perang melawan Jepang pada 9 Agustus 1945, peristiwa ini mendorong
pemerintah Jepang mengambil keputusan untuk mengakhiri perang. Enam hari kemudian, Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan penerimaan Deklarasi Potsdam yang
menandai menyerahnya Jepang kepada Sekutu.
Hingga kini, Nagasaki menjadi simbol penting perdamaian dunia. Berbagai monumen,
museum, dan peringatan tahunan di kota tersebut mengingatkan masyarakat internasional
akan dahsyatnya dampak senjata nuklir terhadap kehidupan manusia. Tragedi 9 Agustus 1945
bukan hanya catatan sejarah perang, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga
perdamaian dan mencegah penggunaan senjata pemusnah massal di masa depan.
Penulis :
Dewi Annisa
Referensi
Firmansyah, M. A. (2024). Penggunaan bom nuklir tipe atomic bomb, A-Booms pada Perang
Dunia II dalam perspektif hukum humaniter. Jurnal Fundamental Justice, 5(2), 117–126.
https://doi.org/10.30812/fundamental.v5i2.4360
Kamata, S., & Salaff, S. (1982). The atomic bomb and the citizens of Nagasaki. Bulletin of
Concerned Asian Scholars, 14(2), 38–50. https://doi.org/10.1080/14672715.1982.10412647
Kusniawati, Lugo, D. S., & Susilowati, I. (2021). Dampak sosial dan keamanan masyarakat
Hiroshima Nagasaki pasca dijatuhkannya bom atom tahun 1945. Journal of Legal Research,
3(4), 607–626. https://doi.org/10.15408/jlr.v3i4.22770
National Archives. (2020). The Atomic Bombing of Hiroshima and Nagasaki.
https://www.archives.gov/news/topics/hiroshima-nagasaki-75