Lompat ke konten

Menuju Dalat: Perjalanan Soekarno, Hatta, dan Radjiman di Tengah Ujung Perang

Pada 10 Agustus 1945, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat tiba di
Saigon dalam perjalanan menuju Dalat, Vietnam. Ketiganya sedang memenuhi panggilan
Marsekal Hisaichi Terauchi, Panglima Angkatan Perang Jepang untuk Wilayah Selatan, yang
meminta mereka datang ke markasnya di Dalat. Perjalanan tersebut telah dimulai sehari
sebelumnya, 9 Agustus, dan Saigon menjadi salah satu persinggahan sebelum mereka
melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir.

Perjalanan itu berlangsung dalam situasi yang tidak biasa. Jepang sedang berada dalam posisi
yang semakin sulit setelah Hiroshima dibom pada 6 Agustus dan Nagasaki pada 9 Agustus.
Pada saat yang sama, pemerintah Jepang masih menjalankan rencana politiknya di Indonesia
melalui pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam keadaan
seperti itulah tiga tokoh Indonesia tersebut melakukan perjalanan ke luar negeri untuk
menemui salah satu pejabat militer Jepang yang paling berpengaruh di kawasan Asia
Tenggara.

Dari Jakarta menuju Saigon
Keberangkatan Soekarno, Hatta, dan Radjiman tidak terlepas dari perkembangan persiapan
kemerdekaan yang sebelumnya telah dilakukan melalui BPUPKI. Setelah badan tersebut
dibubarkan, Jepang membentuk PPKI pada 7 Agustus 1945. Soekarno ditunjuk sebagai ketua
dan Mohammad Hatta sebagai wakil ketua. Radjiman Wedyodiningrat, yang sebelumnya
menjadi ketua BPUPKI, turut dalam rombongan menuju Dalat.

Beberapa hari setelah pembentukan PPKI, ketiganya mendapat panggilan untuk menemui
Terauchi. Bagi pemerintah Jepang, pertemuan tersebut berkaitan dengan rencana
kemerdekaan Indonesia dan langkah-langkah yang perlu dipersiapkan. Namun, kondisi
politik dan militer Jepang sudah berubah dengan cepat. Jepang tidak lagi berada dalam posisi
yang kuat seperti sebelumnya dan kekalahan dalam perang semakin sulit dihindari.

Rombongan berangkat pada 9 Agustus 1945. Mereka melakukan perjalanan melalui
Singapura dan kemudian tiba di Saigon pada 10 Agustus. Dari Saigon, perjalanan dilanjutkan menuju Dalat, tempat markas Terauchi berada. Dengan demikian, tanggal 10 Agustus
merupakan bagian dari perjalanan menuju pertemuan tersebut, bukan tanggal berlangsungnya
pertemuan dengan Terauchi.

Saigon di tengah perubahan situasi perang
Kedatangan rombongan di Saigon terjadi pada hari ketika perkembangan perang sedang
berubah sangat cepat. Sehari sebelumnya, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di
Nagasaki. Serangan tersebut semakin memperburuk posisi Jepang yang sebelumnya sudah
terpukul setelah Hiroshima.

Pada saat yang sama, kabar mengenai keadaan Jepang mulai diketahui oleh tokoh-tokoh
Indonesia di tanah air. Sutan Sjahrir, misalnya, memperoleh informasi mengenai
perkembangan perang melalui siaran radio. Berita mengenai kemungkinan Jepang menyerah
kepada Sekutu kemudian menjadi salah satu informasi penting yang memperkuat keyakinan
bahwa kekuasaan Jepang tidak akan berlangsung lama.

Keadaan tersebut membuat perjalanan Soekarno, Hatta, dan Radjiman memiliki konteks yang
berbeda. Mereka memang sedang menjalankan agenda yang ditentukan oleh pemerintah
Jepang, tetapi mereka melakukannya ketika Jepang sendiri sedang berada di ujung kekalahan.
Ada perubahan besar yang sedang berlangsung, dan para pemimpin Indonesia harus
membaca keadaan tersebut dengan cermat.

Mengapa Dalat menjadi tujuan?
Dalat bukanlah tempat yang dipilih secara kebetulan. Kota ini berada sekitar 250 kilometer di
sebelah timur laut Saigon dan menjadi lokasi markas Marsekal Hisaichi Terauchi, Panglima
Angkatan Perang Jepang untuk Wilayah Selatan. Sebagai pemimpin militer Jepang yang
bertanggung jawab atas kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Terauchi memiliki
posisi penting dalam menentukan kebijakan Jepang di wilayah tersebut.

Oleh karena itu, pemanggilan Soekarno, Hatta, dan Radjiman memiliki kepentingan politik.
Jepang ingin menyampaikan secara langsung perkembangan mengenai rencana kemerdekaan
Indonesia kepada para pemimpin yang telah dipersiapkan untuk menjalankan proses tersebut
melalui PPKI.

Bagi ketiga tokoh Indonesia, perjalanan ke Dalat juga menjadi kesempatan untuk
memperoleh informasi langsung dari pihak Jepang. Mereka dapat mengetahui bagaimana
pemerintah Jepang melihat masa depan Indonesia dan sejauh mana rencana kemerdekaan
yang sebelumnya dijanjikan benar-benar akan dilaksanakan.

Namun, ada satu hal yang membuat perjalanan tersebut semakin penting, yaitu keadaan
Jepang yang sedang berubah dari hari ke hari. Ketika rombongan tiba di Saigon pada 10
Agustus, mereka belum mengetahui secara pasti bagaimana perkembangan perang akan
berakhir. Di Indonesia sendiri, berita mengenai kemungkinan menyerahnya Jepang mulai
menyebar, sementara Jepang masih berusaha mempertahankan kendali atas proses politik di
Indonesia.

Penulis :

Rameyza Elya Qanita

Referensi
Febrianti, B. (2024). Peristiwa Rengasdengklok menjadi pembuka kemerdekaan Indonesia.
JEJAK: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah, 4(2), 20-31.
https://doi.org/10.22437/jejak.v4i2.28255

Rahmawati, A., Muthmainnah, A., Agesta, D., Malinda, S. P., Ramadhan, J., & Hardi, E.
(2026). Peristiwa Jakarta Dalat 12 Agustus 1945: Diplomasi Jepang dan arah awal
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Edu Research, 7(1), 2896-2905.
https://doi.org/10.47827/jer.v7i1.2523

Thuy, P. V. (2013). The political framework of economic decision-making in Indonesia and
Vietnam, 1945-1950. Lembaran Sejarah, 10(1).
https://doi.org/10.22146/lembaran-sejarah.23651