Lompat ke konten

14 Agustus 1945: Kepulangan Soekarno-Hatta dan Menguatnya Desakan Memproklamasikan Kemerdekaan

Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia
Perjalanan menegangkan Soekarno, Hatta, dan Radjiman ke Vietnam

Empat hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, suasana politik di Jakarta berada
dalam keadaan yang penuh ketidakpastian. Pada 14 Agustus 1945, Soekarno, Mohammad
Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat kembali dari Dalat, Vietnam, setelah bertemu dengan
Marsekal Hisaichi Terauchi. Mereka pulang dengan kabar bahwa Jepang telah memberikan
kesempatan kepada Indonesia untuk mempersiapkan kemerdekaan. Namun, pada hari yang
sama, kabar mengenai kekalahan Jepang kepada Sekutu mulai terdengar. Pertemuan dua
keadaan inilah yang kemudian membuat desakan untuk segera memproklamasikan
kemerdekaan semakin kuat.


Perjalanan Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat ke Dalat bermula
pada 9 Agustus 1945. Ketiganya dipanggil untuk bertemu dengan Marsekal Hisaichi
Terauchi, Panglima Angkatan Perang Jepang untuk wilayah Asia Tenggara. Dalam pertemuan
tersebut, Terauchi menyampaikan keputusan Pemerintah Jepang untuk memberikan
kemerdekaan kepada Indonesia melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pertemuan tersebut berlangsung ketika posisi Jepang dalam Perang Dunia II semakin
terdesak. Kekalahan Jepang telah semakin dekat setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom
atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Pada 9 Agustus, ketika ketiga tokoh Indonesia

berada dalam perjalanan menuju Dalat, bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki. Jepang pun
berada dalam situasi yang semakin sulit untuk mempertahankan perang.
Sekembalinya dari Dalat, ketiga tokoh tersebut tiba di Jakarta pada 14 Agustus 1945.
Kepulangan mereka disambut oleh rakyat dan sejumlah pemimpin Indonesia yang ingin
mengetahui hasil pembicaraan dengan pemerintah Jepang. Soekarno menyampaikan bahwa
kemerdekaan Indonesia sudah semakin dekat. Dalam catatan Mohammad Hatta yang
kemudian dikutip oleh Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Soekarno bahkan menggambarkan
bahwa Indonesia akan merdeka sebelum “jagung berbunga”.


Bagi sebagian tokoh Indonesia, berita tersebut tentu menjadi perkembangan yang
menggembirakan. Setelah bertahun-tahun berada di bawah pendudukan Jepang, kemerdekaan
seolah sudah berada di depan mata. Namun, keadaan ternyata bergerak jauh lebih cepat
daripada rencana yang dibawa pulang dari Dalat.
Di Jakarta, kabar mengenai perkembangan Perang Dunia II mulai menimbulkan perhatian
besar. Informasi dari radio-radio asing yang didengar secara diam-diam memberikan
gambaran bahwa Jepang tidak lagi berada dalam posisi untuk melanjutkan perang.


Sutan Sjahrir menjadi salah satu tokoh yang mengetahui perkembangan tersebut. Ia
memperoleh informasi mengenai kemungkinan menyerahnya Jepang dan kemudian
menyampaikannya kepada Mohammad Hatta. Bagi Sjahrir, berita tersebut memiliki arti
politik yang sangat besar. Jika Jepang benar-benar menyerah kepada Sekutu, maka rencana
kemerdekaan melalui persiapan yang dibentuk Jepang harus dipertimbangkan kembali.
Sjahrir melihat bahwa Indonesia memiliki kesempatan untuk menyatakan kemerdekaannya
sendiri. Pandangan tersebut berkaitan erat dengan kekhawatirannya terhadap posisi Indonesia
di mata dunia. Kemerdekaan yang diumumkan melalui badan bentukan Jepang dikhawatirkan
akan menimbulkan kesan bahwa Indonesia memperoleh kemerdekaan sebagai pemberian
Jepang.


Keadaan pada 14 Agustus mempertemukan dua pandangan yang berbeda. Soekarno dan
Hatta baru saja mendapatkan informasi resmi dari Terauchi bahwa Jepang memberikan
kesempatan kepada Indonesia untuk mempersiapkan kemerdekaan. Sementara itu, Sjahrir dan
kelompok pemuda memperoleh informasi bahwa Jepang sedang berada di ambang kekalahan
dan menyerah kepada Sekutu. Perbedaan informasi tersebut kemudian melahirkan perbedaan
sikap. Bagi kelompok pemuda, menunggu proses yang disiapkan Jepang dapat membuat
Indonesia kehilangan momentum. Mereka menginginkan kemerdekaan dinyatakan secepat
mungkin dan atas kehendak bangsa Indonesia sendiri.


Soekarno dan Hatta tidak menolak gagasan kemerdekaan. Sikap mereka lebih berhati-hati
karena masih harus mempertimbangkan kondisi politik dan militer yang ada. Tentara Jepang
masih berada di berbagai wilayah Indonesia, sedangkan keadaan setelah Jepang menyerah
belum sepenuhnya dapat dipastikan. Perbedaan tersebut penting untuk dipahami secara proporsional.

Persoalannya bukan mengenai siapa yang menginginkan Indonesia merdeka
dan siapa yang tidak. Baik golongan tua maupun golongan muda sama-sama menginginkan
kemerdekaan. Perbedaan terletak pada cara, waktu, dan risiko yang harus dipertimbangkan
untuk mewujudkannya.


Keberadaan PPKI menjadi salah satu persoalan yang semakin diperdebatkan. Badan tersebut
memang dipersiapkan untuk menjalankan proses menuju kemerdekaan Indonesia. Namun,
bagi kelompok pemuda, hubungan PPKI dengan pemerintah pendudukan Jepang menjadi
persoalan yang tidak dapat diabaikan. Mereka ingin agar kemerdekaan Indonesia tidak
memiliki kesan sebagai hasil keputusan pemerintah Jepang. Setelah mengalami penjajahan
selama bertahun-tahun, bangsa Indonesia dianggap harus menunjukkan kepada dunia bahwa
kemerdekaan merupakan hasil perjuangan dan keputusan bangsa sendiri.


14 Agustus 1945 akhirnya menjadi salah satu hari ketika arah sejarah Indonesia mulai
berubah. Soekarno-Hatta pulang membawa kabar tentang kemerdekaan yang semakin dekat,
sementara Sjahrir dan kelompok pemuda melihat bahwa kekalahan Jepang membuka
kesempatan untuk menyatakan kemerdekaan atas kehendak yang telah direncanakan. Dari
sinilah desakan untuk segera memproklamasikan kemerdekaan semakin menguat. Namun,
hari itu belum menjadi hari merdeka seutuhnya karena berbagai persiapan kemerdekaan
masih sepenuhnya dirancang agar dapat dipastikan secara terstruktur, sistematis, serta dalam
waktu yang tepat.

Penulis :

Marlenny Fuji Ayu

REFERENSI
Ariffudin, & Zulkarnain. (2016). Kiprah politik Sutan Sjahrir dalam pemerintahan
(1945-1947). Risalah: Jurnal Pendidikan Sejarah, 1(3).
https://journal.student.uny.ac.id/ojs/risalah/article/view/915


Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. (n.d.). Proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Ensiklopedia Sejarah Indonesia.
https://esi.kemenbud.go.id/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia


Hatta, M. (2011). Sejarah Muhammad Hatta. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Hisyam, M. (2015). Ki Bagus Hadikusumo dan problem relasi agama-negara. Jurnal
Masyarakat dan Budaya, 13(2), 1-28.
https://ejournal.brin.go.id/jmb/article/view/8825


Rizal, M. (n.d.). Perjalanan menegangkan sukarno-hatta-radjiman ke vietnam. Detikx.
Retrieved August 12, 2026, from
https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20220804/Perjalanan-Menegangkan-Sukarno-Hatta
-Radjiman-ke-Vietnam/

Sekretariat Negara Republik Indonesia. (n.d.). Membuka catatan sejarah: Detik-detik
Proklamasi, 17 Agustus 1945.
http://setneg.go.id/baca/index/membuka_catatan_sejarah_detik_detik_proklamasi_17_agustu
s_1945


Sopandi, A., Abdu Asy Syahid, M., Mubarok, M., & Djohanr, M. (2022). Pengkajian data
“Kawasan Menteng jilid 2”; gedung-gedung yang terkait dengan peristiwa proklamasi
kemerdekaan. Pengkajian Data “Kawasan Menteng Jilid 2”: Gedung-gedung yang terkait
dengan Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan, 1–227.
https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/3946/