Museum Pendidikan Nasional, Kebanggaan Masyarakat Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan, Museum Pendidikan Nasional (MPN) yang terletak di Kompleks Universitas Pendidikan Indonesia Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung merupakan kebanggaan seluruh masyarakat Jawa Barat. Dari MPN inilah, masyarakat Jawa Barat memberikan kontribusi terhadap pembangunan, khususnya bidang pendidikan. Sebab, museum ini, tidak hanya menyajikan sejarah pendidikan masa lalu, melainkan menjadi pusat mempelajari pendidikan di masa mendatang.

“Pemerintah dan rakyat Jabar bangga dengan museum ini. Selain dapat menjadi destinasi baru dalam kepariwisataan di Jawa Barat, dapat juga menjadi pusat pengembangan konsep, model, metodologi pendidikan, dan tempat untuk merumuskan profil generasi mendatang,” kata Ahmad Heryawan menjawab pertanyaan wartawan saat meresmikan MPN saat bersama Rektor UPI Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. di Kampus UPI, Bandung, Sabtu (2/5/2015).

Gubernur Jabar ini menyatakan, siapa pun boleh memberikan kontribusi pemikiran tentang pendidikan dengan kehadiran museum ini. Untuk merunut pendidikan masa lalu, MPN ini menyajikan berbagai peninggalan sejarah pendidikan dari seluruh Indonesia. Dari peninggalan masa lalu pula, diharapkan diperoleh refleksi demi proyeksi pendidikan di masa mendatang.

Sementara itu, Rektor UPI Prof. Sunaryo Kartadinata dalam kesempatan itu mengungkapkan, kehadiran museum ini didasarkan atas pememikiran dan wujud tanggung jawab UPI sebagai universitas yang jati dirinya pendidikan. Oleh karena itu, UPI menghadirkan pemikiran pendidikan ini secara utuh sejak awal tentang konteks peradaban manusia, karena peradaban manusia ini terus berkembang.

“Oleh karena itu, museum ini merupakan sebuah sumber pembelajaran bagi siapa pun anak bangsa ini agar tahu persis mengenai riwayat pendidikan bangsanya, sekaligus juga untuk pembelajaran di mana pendidikan harus mengawal perkembangan bangsa,” ujar Prof. Sunaryo.

Di samping itu, museum ini juga menghadirkan berbagai persoalan tentang pendidikan. Karena, pendidikan bangsa tentu tidak lepas dari pendidikan guru, dan UPI sebagai universitas yang bertanggung jawab untuk menyiapkan guru, maka UPI ingin menghadirkan museum ini secara historis maupun pemikiran tentang pendidkan masa depan.

“Museum ini tidak hanya diisi dengan pemikiran masa lalu dan kini, tetapi yang paling penting adalah pemikiran ke depan. Kami mempunyai keyakinan bahwa proses pendidikan masa lalu mengandung nilai penting yang bermakna bagi bangsa ini. Oleh karena itu, kehadiran museum ini diharapkan menjadi pusat pembelajaran pendidikan, tetapi sekaligus sebagai wadah pemikiran tentang pendidikan bagi siapa pun juga yang nantinya menjadi warisan bagi generasi yang akan datang,” ujar Prof. Sunaryo selanjutnya.

Diberitakan, gedung MPN terdiri atas lima lantai. Lantai pertama terdapat ruangan audio visual yang memberikan gambaran menyeluruh tentang museum, ruang pameran tidak tetap, dan ruang cinderamata. Di Ruang Pendidikan Zaman Klasik terdapat diorama yang memamerkan sistem pendidikan zaman prasejarah meliputi perkembangan sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan religi. Ruang ini juga dilengkapi displai elektronik berupa tambahan data dari diorama mengenai deskripsi informasi perkembangan pendidikan dan kebudayaan zaman prasejarah melalui foto digital elektornik dan konvensional serta video mengenai kehidupan masyarakat tradisional di Nusantara. Komputer di sini dilengkapi komputer interaktif yang berisi kuis, games atau permainan yang berhubungan dengan materi sesuai.

Lantai kedua memamerkan perkembangan pendidikan Indonesia pada masa klasik, masa kolonial, masa pergerakan nasional, dan masa awal kemerdekaan hingga masa reformasi. Di ruang ini dipamerka displai bangunan sekolah, pembelajaran di kelas, peta konsep pendidikan, kurikulum atau materi pelajaran dan biaya sekolah, dari masa colonial hingga zaman mutakhir. Juga dipamerkan koleksi buku, alat tulis, ijazah, materi pelajaran atau kurikulum dan alat belajar lainnya dari yang paling klasik hingga yang paling modern. Pada lantai ini disediakan pula ruang pendukung seperti ruang perpustakaan, ruang riset, dan ruang pamer temporer.

Lantai ketiga menyajikan tentang sejarah pendidikan guru dan sejarah guru dari zaman colonial hingga zaman Reformasi. Yang menarik, ruang ini menyediakan dinding puzzle balok segitiga yang dapat disusun menjadi gambar pembelajaran di sekolah guru pada masa colonial, baik di kweekschool, normalschool, hogere kweekschool, Hollands Inlandsche Kweekschool (HIK) menggantikan HKS, Hollands Chinese Kweekschool. Lantai ini juga menyediakan ruang khusus memajang tujuh patung lilin yang menggambarkan transformasi figur guru dari zaman kolonial hingga saat ini.

Lantai empat museum ini secara khusus menggambarkan perjalanan sejarah UPI sejak awal pendiriannya tahun 1954 sebagai PTPG hingga UPI mutakhir. Proyeksi tentang UPI di masa depan juga dipamerkan di lantai ini, dengan menyertakan ruang sejarah gedung Isola pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dilengkapi ruang pameran kontemporer.

Pada ruang atap di lantai lima, museum dilengkapi dengan area pendukung yang bersifat rekreatif. Lantai ini menyediakan taman dan out door cafe, di mana para pengunjung dapat menikmati pemandangan ke arah selatan yaitu kampus UPI dan ke arah utara menikmati pemandangan Gunung Tangkuban Parahu.

Selain mengumpulkan warisan pendidikan dan kebudayaan, museum ini menyajikan dinamika pemikiran kritis pendidikan nasional dan pendidikan guru di Indonesia. Dengan demikian, museum ini diharapkan dapat mendukung program pemerintah “cinta museum” serta ikut menyukseskan Jawa Barat sebagai daerah tujuan wisata budaya dan pendidikan yang memiliki keunikan tersendiri. (berita.upi.edu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

PengumumanPengumuman

Dalam rangka kegiatan Dies Natalis Universitas Pendidikan Indonesia maka Museum Pendidikan Nasional Tutup : 18 Oktober 2019 Buka Kembali : 21 Oktober 2019 (Maisa

RSS
Follow by Email
WhatsApp
× Perlu Bantuan?