
Bandung, 13 April 2026 – Museum Pendidikan Nasional bersama dengan Pusat Unggulan Educational Cultural Sustainability Network (ECSN) menjadi ruang dialog lintas budaya dalam kunjungan seorang Education Specialist asal Belanda bernama Idske Bakker yang bertujuan untuk berbagi perspektif mengenai sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan suasana diskusi yang hangat dan reflektif, mempertemukan sudut pandang historis dari dua bangsa yang memiliki keterkaitan panjang dalam sejarah.
Dalam kegiatan ini, Bakker memaparkan berbagai pendekatan edukasi yang digunakan di Belanda dalam mengajarkan sejarah kolonial kepada generasi muda. Ia menekankan pentingnya penyampaian sejarah secar kritis, terbuka dan berbasis pada sumber yang terpercaya agar mampu membangun pemahaman yang lebih utuh serta empati terhadap masa lalu.
Diskusi yang berlangsung di lingkungan museum ini tidak hanya membahas fakta sejarah, tetapi juga mengangkat isu-isu kontemporer terkait bagaimana warisan kolonial masih memengaruhi berbagai aspek kehidupan saat ini, termasuk Pendidikan, budaya hingga identitas nasional.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah dan Magister Pariwisata yang cukup antusias mengikuti jalannya diskusi. Kehadiran mereka menambah dinamika forum dan turut aktif bertukar pandangan dan pengalaman, begitupun tanggapan dari mahasiswa S2 Pariwisata yang mengaitkannya dengan sejarah kuliner Indonesia yang memiliki banyak warisan dari Belanda.




Kepala Museum Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd. menyambut baik kunjungan Idske Bakker sebagai bagian dari upaya penguatan peran museum sebagai ruang edukasi public yang dinamis serra memberikan sarana pembelajaran langsung di luar kelas dalam memahami sejarah kolonial dari perspektif Belanda.
Melalui kegiatan seperti ini, museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda-benda kuno, tetapi juga menjadi wadah dialog kritis dan pembelajaran lintas perspektif. Kegiatan ini juga menjadi langkah penting dalam membangun jembatam pemahaman antara Indonesia dan Belanda, sekaligus mendorong pengembangan program edukasi sejarah yang lebih inklusif dan relevan bagi generasi masa kini.
